Senin, 21 Desember 2009

Musik dengan Nuansa Sedih

Ngobrol-ngobrol dengan rekan senior saya yang sebentar lagi mau pensiun. Meskipun beliau mau pensiun tetapi dari penampilan beliau tidak nampak sama sekali aspek-aspek ketuaan, paling-paling hanya sedikit nampak uban pada rambut kepalanya. Selidik punya selidik ternyata beliau memiliki hobi bernyanyi bersama klubnya, seminggu sekali mereka bertemu dan berkumpul serta bernyanyi saling bergantian diiringi organ tunggal di kafe yang juga berpindah-pindah.

Bicara tentang musik sedih ada yang berpendapat bahwa kalau seseorang sedang sedih maka dianjurkan dihadapi dengan memperdengarkan atau memainkan musik yang riang atau sebaliknya.

Kok saya tidak setuju dengan pendapat di atas.

Bagi saya musik adalah penstabil-mood (suasana perasaan). Maksudnya, manakala kita sedih tidak masalah kita menyanyikan / mendengarkan musik dengan nuansa sedih. Sesedih apapun suatu musik yang kita dengarkan atau mainkan pada intinya musik adalah produk seni. Selama aspek-aspek seni musik (atau seni apapun) dipertahankan kaidah-kaidahnya saya yakin musik dapat dan mampu sebagai penstabil mood.

Di samping itu semakin kita menguasai keterampilan kita baik sebagai penyanyi atau pemusik maka semakin kuat kemampuan kita untuk mengendalikan emosi / perasaan kita. Maksudnya keahlian / kepakaran kita dalam bermain musik (menyanyikan lagu) semakin memperkuat kemampuan kita menstabilkan perasaan kita. Inilah keajaiban seni (termasuk seni musik).

Lihat juga Terapi Musik